Mengapa sebaiknya Anda Jangan bergabung PayTren?


Beberapa tahun ke belakang sampai saat ini, tidak di pungkiri bahwa nama Paytren sudah tidak asing terdengar. Sebuah aplikasi hasil karya yang lahir dari ide Ustadz Yusuf Mansur yang berfokus pada layanan transaksi yang merupakan kebutuhan rutin setiap orang.
Dalam promosinya terdapat dua pilihan kategori bagi yang ingin bergabung, yaitu kategori pengguna dan kategori pebisnis yang tidak sebatas menggunakan aplikasi, melainkan punya tujuan lebih besar yaitu untuk mendapatkan benefit, keuntungan, atau penghasilan dengan cara memasarkan lisensi yang biasa kita dengar dalam promosi baik dalam online ataupun dari mitra yang sudah bergabung dengan istilah cashback, komisi dan reward yang sangat menjanjikan mencapai jutaan, puluhan juta, bahkan ratusan juta rupiah (Woww menggiurkan!).

Oleh karena itu tidak sedikit yang bergabung paytren, selalu ada yang mendaftar setiap harinya, entah hanya sebagai pengguna saja atau memilih opsi kedua sebagai pebisnis (saya rasa kebanyakan karena opsi kedua, “menjanjikan itu lo”).
Nah, bagi anda yang bermental baja, punya kesabaran tingkat tinggi, berjiwa pekerja keras, tahan banting, dan istilah lain semacamnya, maka sah-sah saja dan sangat cocok untuk menjalankan bisnis paytren, karena sepahit apapun perjuangannya nanti, kalian akan tetap melangkah walau bergelimangan darah bercampur kesal, gedek, hampir putus asa tenggelam dalam penolakan.

Saya tekankan bahwa tulisan ini bukan ditujukan untuk kalian yang bermental baja tersebut dan bukan untuk para sponsor paytren, jadi sebaiknya closed saja tab-nya dari sekarang. Tulisan ini saya tulis untuk anda–anda yang mau bergabung Paytren. Nah berikut inilah alasan kenapa anda jangan gabung Paytren:

1. Tidak sesuai dengan yang anda bayangkan

Ketika anda secara tidak sengaja membaca dalam media sosial atau mendapat prospek langsung dari paytreners yang mengatakan bahwa : "jadikan smrtphone mu alat penghasilan, cashback mencapai sekian juta perbulan, komisi bisa buat renopasi rumah, peghasilan paytren bisa melebihi gaji anda, apapun profesi anda tetap bisa jalanin paytren", dan kata-kata promosi semacamnya, termasuk kalimat yang sering bikin gagal paham yaitu “daftar 350 ribu, potensi penghasilan seumur hidup”, dikira cukup hanya daftar 350 ribu trus isi pulsa bayar listrik dapet untung seumur hidup hehehe.

Semua itu tidak seperti yang anda bayangkan dari awal ketika akan daftar Paytren, "wah ada cashback jutaan tiap bulan, belum komisi, MANTAP!" Kalau pikiran anda dari awal hanya tertuju pada hal tersebut, tanpa berpikir bagaimana proses promosi agar closing, duplikasi, yang anda pikir mudah tanpa adanya bekal kemampuan dalam bidang marketing, maka saya sarankan sebaiknya anda kembali ke barak.

2. Berpikir 24 jam nonstop

No closing = Pusing! Menjalankan bisnis Paytren tentu saja anda menargetkan closing sebagai suksesnya prospek dalam promosi anda. Si kata “Closing” ini akan selalu menghantui anda diamanapun, kapanpun, dalam kondisi apapun xixixi… lagi fokus kerja maka akan muncul angin closing menghembus otak anda (“gimana nih belum closing”), saat makan akan tercium aroma closing, saat sholat akan datang menghampiri setan closing yang menggoda, bahkan saat tidur pun masih sempat mimpi dan ngigau “clozziiing..clozziinng..”. hadeuuuhh…!

Semua itu akan membuat anda tak habis pikir, eh tak habis berpikir. Ya meskipun lebai tapi bisa saja terjadi. Mungkin untuk orang-orang tertentu tidak akan sulit melakukan duplikasi downline, seperti misalnya seorang tokoh yang dikenal orang banyak, artis yang banyak penggemar, seorang bos, orang yang aktif di suatu organisasi, atau orang yang memang sering berinteraksi dengan banyak orang dan semacamnya. Mereka tinggal prospek dikit aja kelar idup lo, kelar closing maksudnya, tpi bagi orang biasa saja seperti saya misalnya yang dikenal dengan sebutan “aku mah apa atuh” bubuk rengginang, maka harus bermental baja dan tahan banting seperti yang disebutkan diawal jika ingin menjalankan bisnisnya.

3. Menjadi budak pertanyaan

Ketika anda melakukan promosi atau prospek terhadap calon mitra (camit), selain anda melancarkan serangan bertubi-tubi dengan peluru yang anda miliki untuk menjatuhkan camat, eh camit dengan harapan menjadi tawanan anda, sebelum itu terjadi maka anda akan mendapatkan serangan balik dengan sejuta pertanyaan dari camit yang harus anda jawab dengan tepat dan santun (jangan sampai keluar kata sontoloyo, kelar idup lo). Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, terkadang anda harus mencari contekan dulu di grup, web, fb atau di catatan yang anda simpan karena sama-sama gak ngerti dengan pertanyaannya, gkgkgk. Walaupun sudah nyari kesana kemari ga nemu juga karena panik, akhirnya memilih jawaban “sebentar saya tanya sponsor saya dulu” yang sponsornya slow respon kayak keong, ketika dapat jawabannya ternyata camit udah kabur karena kelamaan. Capedeeehhh, disinilah prisai mental baja dibutuhkan.

Dan jangan anda pikir setelah panjangnya sesi tanya jawab yang anda lalui selalu berakhir closing, karena lebih sering berakhir dengan lirik indah “terimakasih infonya mas/mbak, nanti saya hubungi kembali” disertai senyuman pahit menyesakkan dada yang sampai kiamat kurang 2 hari pun ga ada muncul menghubungi lagi, dan anda pun mau tidak mau menjawab dengan senyuman sambil membenturkan kepala anda ke tembok berkali-kali.

Tidak usah menanggapi artikel ini dengan serius, cukup dinikmatin aja, hidup ini udah cukup serius jadi jangan terganggu dengan artikel ini, dan bagi para mitra Paytren ga usah jengkel karena artikel ini ga akan ngaruh buat kalian.
Cukup sekian tulisan kali ini, terima kasih bagi yang sudah berkunjung.


0 Response to "Mengapa sebaiknya Anda Jangan bergabung PayTren?"

Jangan ragu untuk bertanya dikolom komentar jika ada yang tidak dimengerti atau mau info lebih banyak mengenai paytren. Atau bisa langsung bertanya melalui menu Contact Me di atas.